ABANGKU BUKAN PENCOPET
Sorotan sinar matahari menyinari bumi. Burung pun terbangun dari tidurnya dan berterbangan dengan kicauannya yang meramaikan suasana pagi itu. Terdengar dari kejauhan suara peluit kereta api mulai mendekat ke stasiun Kediri. Firman terbangun dari tidurnya setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Ketika dia baru saja membuka matanya, dia melihat seseorang yang mencurigakan mengambil dompet dari sebuah tas penumpang. Semua penumpang belum terbangun, kereta masih sunyi senyap. Firman segera bangun dari duduknya dan mencegah orang mencurigakan itu melakukan kejahatannya. Dia sempat berkekahi dengan pencopet itu dan berhasil merebut dompet yang telah diambil. Kemudian pencopet itu melarikan diri dari kereta.
Firman masih memegang dompet itu dan seorang penumpang lain terbangun. Firman terkejut sekali ketika penumpang itu meneriakinya pencopet.
“ Hai pencopet...”
“ Aku bukan pencopet, aku hanya ingin mengembalikan dompet ini kepada pemiliknya.”
“ Mana mungkin maling mau mengaku. Ayo kita bawa pencopet ini ke kantor polisi.”
“ Aku sungguh-sungguh tidak mencuri. Kalian salah paham.”
“ Sudahlah, jangan berbohong terus.”
“ Aku bukan pencopet, aku hanya ingin mengembalikan dompet ini kepada pemiliknya.”
“ Mana mungkin maling mau mengaku. Ayo kita bawa pencopet ini ke kantor polisi.”
“ Aku sungguh-sungguh tidak mencuri. Kalian salah paham.”
“ Sudahlah, jangan berbohong terus.”
Dengan terbata-bata Firman diseret ke kantor polisi. Mereka melaporkan Firman kepada polisi dengan tuduhan pencurian. Firman harus mendekam di penjara atas apa yang tidak dia lakukan. Tempat itu terlalu buruk untuk orang yang tidak bersalah. Tempat itu terlalu sempit, pengap dan gelap. Dibalik jeruji Firman berdoa dia akan dibebaskan dari tuduhan karena dia tidak bersalah. Saat dia berdoa, seorang polisi datang dan membukakan sel penjara. Keluarganya sudah menunggu di ruang besuk.
“ Firman!!! Kamu memalukan. Kenapa kamu mencuri, apa kurang uang yang bapak berikan padamu?”
( Firman hanya terdiam dan tertunduk )
“ Dasar anak kurang ajar.”
( Pak Anwar menampar Firman dengan penuh kemarahan )
“ Jangan marahi kakak pak. Rosa yakin kakak tidak akan melakukan hal yang tercela.”
“ Buktinya sekarang abangmu mencuri. Sudah jangan dibela terus abangmu yang pencuri. Kalau kamu tetap membelanya, ikut saja abangmu dipenjara. ”
“ Tapi pak...”
“ Sudah jangan diteruskan. Kamu mau melawan bapak ya, atau kamu mau jadi anak kurang ajar seperti abangmu ini?”
( Firman hanya terdiam dan tertunduk )
“ Dasar anak kurang ajar.”
( Pak Anwar menampar Firman dengan penuh kemarahan )
“ Jangan marahi kakak pak. Rosa yakin kakak tidak akan melakukan hal yang tercela.”
“ Buktinya sekarang abangmu mencuri. Sudah jangan dibela terus abangmu yang pencuri. Kalau kamu tetap membelanya, ikut saja abangmu dipenjara. ”
“ Tapi pak...”
“ Sudah jangan diteruskan. Kamu mau melawan bapak ya, atau kamu mau jadi anak kurang ajar seperti abangmu ini?”
Pak Anwar dan Bu Ranti pergi meninggalkan Firman. Tetapi Rosa masih saja menunggui abangnya dengan berlinangan air mata. Rosa tidak percaya abangnya melakukaun hal serendah itu. Dia tahu bahwa abangnya adalah seorang muslim yang taat beribadah. Mustahil abangnya melakukan hal yang dilarang Allah.
“ Kakak tidak mencuri kan? Ini hanya salah paham.”
“ Tidak. Semua ini benar Rosa, kakak telah mencuri. Maafkan kakak.”
“ Kakak bohong! Aku tahu kakak. Kakak tidak akan melakukan hal itu meskipun dalam keadaan terdesak.”
“ Tapi kakak juga manusia biasa yang mungkin bisa melakukan apapun.”
“ Rosa tetap tidak percaya. Kenapa kakak menyembunyikan kebenaran. Harusnya kakak......”
“ Cukup Rosa, sebaiknya kamu pulang. Jangan pedulikan kakak. Kamu jangan melawan bapak.”
“ Tidak. Semua ini benar Rosa, kakak telah mencuri. Maafkan kakak.”
“ Kakak bohong! Aku tahu kakak. Kakak tidak akan melakukan hal itu meskipun dalam keadaan terdesak.”
“ Tapi kakak juga manusia biasa yang mungkin bisa melakukan apapun.”
“ Rosa tetap tidak percaya. Kenapa kakak menyembunyikan kebenaran. Harusnya kakak......”
“ Cukup Rosa, sebaiknya kamu pulang. Jangan pedulikan kakak. Kamu jangan melawan bapak.”
Firman meninggalkan Rosa yang masih berlinagan air mata. Dia tidak ingin Rosa dimarahi bapak karena membelanya. Tapi dia juga sedih dia harus berbohong kepada adik yang sangat disayanginya. Dia terpukul sekali keluarganya tidak mempercayainya lagi. Dia benar-benar sudah putus asa.
Sementara itu, Rosa terus meyakinkan orang tuanya untuk membebaskan kakaknya. Dia tetap keukeh pada keyakinannya kalau abangnya tidak bersalah. Selama beberapa hari dia pergi dari rumah untuk mencari bukti. Dia selalu mendatangi stasiun dimana abangnya dituduh sebagai pencuri untuk mencari informasi. Sampai suatu hari dia menemukan selebaran dengan gambar seseorang yang sedang diburu polisi sebagai pencopet kelas kakap. Dia yakin orang itulah yang telah mencuri, bukan kakanya. Setelah 2 hari menginap di stasiun itu untuk menemukan pencopet itu, Rosa akhirnya menemukannya dan mengikutinya. Ketika pencopet itu sedang melakukan aksinya, Rosa berteriak dan akhirnya pencopet itu ditangkap. Pencopet itu pun dibawa ke kantor polisi. Rosa ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Dia mencoba untuk membebaskan abangnya. Pencopet itu akhirnya mengaku bahwa yang mencopet saat itu adalah dirinya, bukan Firman. Firman dibebaskan.
“ Aku yakin kakak tidak mencuri. Dan aku sudah buktikan itu.”
“ Terima kasih Rosa. Kamu sudah percaya pada kakak dan membebaskan kakak. Kakak sangat berhutang padamu.”
“ Kakak...kita kan saudara. Tidak ada hutang diantara kita. Aku ikhlas melakukannya.”
“ Terima kasih Rosa. Kamu sudah percaya pada kakak dan membebaskan kakak. Kakak sangat berhutang padamu.”
“ Kakak...kita kan saudara. Tidak ada hutang diantara kita. Aku ikhlas melakukannya.”
Firman sangat senang dan tidak bisa berkata-kata lagi. Kedua saudara itu pun saling berpelukan. Tiba-tiba ada orang yang memeluk mereka dari belakang. Orang itu adalah Pak Anwar dan Bu Ranti.
“ Maafkan bapak karena sudah tidak mempercayai anak bapak sendiri.”
“ Tidak apa-apa pak. Yang penting sekarang ini saya sudah keluar dari penjara berkat putri bapak yang hebat ini.”
“ Tidak apa-apa pak. Yang penting sekarang ini saya sudah keluar dari penjara berkat putri bapak yang hebat ini.”
Mereka semua tersenyum bahagia. Dan saling berpelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar